Sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa terlalu banyak menonton televisi, baik itu di layar besar, laptop, ponsel pintar, atau tablet, dapat mempengaruhi kesiapan anak dalam memasuki dunia TK.
Kemampuan berhitung, menulis, membaca, serta kompetensi sosial dan kognitif dapat terganggu akibat kebiasaan menonton yang berlebihan.
Sebagai orangtua, tentu kita ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita.
Namun, terkadang kita terjebak dalam kesibukan sehari-hari yang membuat kita sulit memberikan perhatian penuh pada anak.
Televisi seringkali menjadi pilihan mudah untuk membuat anak tenang dan terhibur, namun kita harus ingat bahwa kebiasaan menonton yang berlebihan dapat berdampak negatif pada perkembangan anak.
Sebetulnya tidak hanya siaran televisi, melainkan juga berbagai fitur yang disajikan olej gadget (gawai) seperti film dan game.
Maka dari itu, sebagai orangtua yang peduli dengan masa depan anak, mari kita bersama-sama mencari alternatif lain untuk mengisi waktu luang anak.
Buku cerita, permainan edukatif, atau kegiatan outdoor dapat menjadi pilihan yang lebih baik untuk membantu anak mengembangkan kemampuan dan kesiapan dalam memasuki dunia TK.
Jangan biarkan televisi mengambil alih peran kita sebagai orangtua yang bertanggung jawab atas masa depan anak-anak kita.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa kebiasaan menonton televisi yang berlebihan dapat meningkatkan risiko obesitas pada anak.
Orangtua yang menyadari hal ini tentu merasa bersalah, namun terkadang tidak memiliki alternatif lain selain membiarkan anak menonton televisi atau video melalui gadget.
Jadi, bagi kita yang memiliki anak balita, sebaiknya mulai mencari cara kreatif untuk membuat anak tetap tenang dan tidak tergoda untuk menonton televisi.
Sebuah penelitian terbaru menunjukkan hasil yang cukup mengkhawatirkan tentang pengaruh televisi terhadap perkembangan anak.
Sehingga penting bagi orangtua untuk memperhatikan pola konsumsi media anak sejak dini.
Sebuah riset terkini yang dilakukan di Universitas New York telah mengungkapkan bahwa semakin sering anak menonton televisi, maka semakin rendah pula tingkat kesiapannya untuk memasuki taman kanak-kanak.
Para peneliti menemukan bahwa anak-anak yang menghabiskan waktu berjam-jam menatap layar televisi cenderung memiliki kesiapan yang lebih rendah untuk memasuki taman kanak-kanak, terutama bagi keluarga dengan penghasilan yang di bawah rata-rata.
Hasil penelitian yang dipublikasikan di Journal of Developmental and Behavioral Pediatrics ini merekomendasikan agar anak-anak usia 2-5 tahun hanya diperbolehkan menonton televisi selama satu jam setiap harinya.
Namun, mengingat kemajuan teknologi yang semakin pesat, hal ini tentu saja menjadi tantangan tersendiri.
Belum lagi pengaruh dari keluarga atau tetangga di sekitar yang tidak satu visi misi dengan kita dalam mendidik anak.
Baca juga:
- Makanan yang Baik dan Tidak Baik Dikonsumsi Bayi Menurut Dokter Anak
- Uniknya Otak Anak Perempuan. Perkembangannya Lebih Cepat daripada Otak Anak Laki-Laki
Efek Negatif Anak yang Kecanduan Televisi
Dalam penelitian yang dipimpin oleh Andrew Ribner, terungkap bahwa anak-anak kini semakin sering terpaku pada layar gadget mereka.
Berbagai studi menunjukkan bahwa anak-anak menghabiskan waktu menonton televisi lebih dari yang seharusnya.
Terlebih lagi dengan kemajuan teknologi, di mana semakin banyak media hiburan yang bisa dinikmati sembari rebahan.
Hal ini membuat anak-anak semakin terbiasa dengan screen time yang semakin lama dibandingkan sebelumnya.
Para peneliti mengumpulkan data dari 807 anak dari taman kanak-kanak dengan berbagai latar belakang.
Orangtua mereka diminta melaporkan penghasilan keluarga dan berapa jam anak-anak mereka menghabiskan waktu menonton televisi setiap hari.
Selain itu, penggunaan video game, tablet, dan ponsel pintar juga dimasukkan dalam studi ini.
Lalu, anak-anak yang menjadi peserta diuji mengenai kemampuan dasar yang menentukan kesiapan mereka memasuki dunia pendidikan.
Seperti kemampuan berhitung, memahami huruf dan kalimat, kompetensi sosial emosional, serta kunci kognitif berupa kerja memori, fleksibilitas kognitif dan kontrol inhibitori (kemampuan mengendalikan perilaku yang menghalangi tujuan mereka).
Hasilnya, anak-anak terlalu sering menatap layar televisi, termasuk juga gadget, selama lebih dari dua jam setiap harinya, kesiapan mereka untuk memasuki taman kanak-kanak tergolong rendah.
Penelitian ini juga menyimpulkan bahwa semakin rendah tingkat penghasilan keluarga maka semakin besar pula keterkaitan antara menonton televisi dan rendahnya kemampuan di sekolah.
Keluarga yang hidup dengan penghasilan di bawah rata-rata serta dengan anggota keluarga yang banyak, cenderung menghadapi tantangan yang paling berat.
Namun para peneliti juga menemukan fakta lain yang menarik.
Meskipun berasal dari keluarga berpenghasilan tinggi, tidak ada hubungan antara kesiapan masuk sekolah dengan kebiasaan menonton televisi.
Mereka berhipotesis bahwa anak-anak dari keluarga kaya lebih sering menonton program pendidikan dan orang tua mereka lebih sering menonton acara televisi yang mendukung pembelajaran anak-anak bersama dengan anak-anak mereka.
Selain itu, peneliti menemukan bahwa terlalu banyak menonton televisi tidak berpengaruh pada kemampuan matematika dan eksekusi.
Akan tetapi para peneliti menemukan bahwa menonton televisi berhubungan dengan kemampuan mengenali huruf dan pengetahuan umum.
Hal ini mungkin terjadi karena program televisi anak-anak lebih fokus pada literasi daripada pengembangan kemampuan matematika.
Caroline Fitcpatrick, salah satu anggota dalam penelitian ini, memberikan komentar yang menarik perhatian.
"Dari hasil penelitian kami, lingkungan sekitar anak sangat berpengaruh terhadap kemampuan belajarnya. Terlalu banyak waktu yang dihabiskan untuk menatap layar gadget dan televisi dapat memberikan efek yang merugikan pada hasil belajar anak."
Sebagai orang tua, sudah saatnya untuk mulai membatasi waktu anak menonton televisi dan menggunakan gadget.
Kita harus memperhatikan dampak negatif yang dapat terjadi pada proses belajar anak.
Kita tentu tidak ingin anak-anak kita memiliki daya tangkap yang lambat karena terlalu banyak menonton televisi, bukan?
Oleh karena itu, mari kita bersama-sama memperhatikan lingkungan belajar anak dan memberikan pengaruh positif pada proses belajarnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar